CATATAN ISMET DARI PENJURIAN
Di hari Minggu - Selasa subuh kemarin, saya beruntung mendapatkan kesempatan pertama menikmati karya peserta Daun Muda dan BG award.
Saya beruntung karena sungguh, banyak karya luar biasa dengan menggunakan medium yang sama sekali berbeda dengan yang biasa mereka kerjakan sehari-hari.
Dan perdebatan panjang pun terjadi, untuk memilih siapa sepuluh orang peserta Daun Muda yang akan bertarung lagi di hadapan panel juri dari luar negeri saat pelaksanaan Citrapariwara nanti. Juga memilih sepuluh orang peserta BG yang akan bertarung di Jakarta nanti.
Puluhan jam memelototi URL-URL yang dikirimkan peserta.
Lalu memilih short list yang pantas untuk diajukan ke dalam diskusi Dewan Juri. Diskusi yang panjang dan keras, dengan berbagai argumentasi untuk menelurkan 10 pasang finalis DM dan 10 pasang finalis BG.
Dan sebagaimana layaknya sebuah penjurian karya kreatif, keputusan kami adalah keputusan terbaik yang bisa kami ambil pada detik itu juga. Mungkin di hari yang berbeda, dengan komposisi yang berbeda, keputusan yang berbeda yang akan keluar.
Saya sendiri mencatat beberapa karya yang ingin saya beri catatan, karena kontroversinya, atau karena kehebatannya. Karya-karya DM dan BG yang bisa mencuri perhatian saya pribadi.
Catatan untuk BG Award
Saya hanya punya satu catatan untuk satu finalis: Kampanye Sayang Ayah, karya pasangan dari ITB.
Buat saya, karya ini adalah karya yang luar biasa. Viral video yang sungguh menyentuh hati. Yang dengan mudah bisa dipanjangkan untuk digunakan oleh sebuah brand, atau sebuah kampanye periklanan. Bahkan kalau karya ini dimasukkan dalam kategori Daun Muda pun, iabisa mencapai prestasi sebagai finalis.
Saya melihatnya sebagai sebuah karya yang terencana dengan sangat baik, dan dieksekusi dengan tidak kalah baik. Sebuah karya luar biasa untuk sepasang mahasiswa.
Catatan untuk Daun Muda Award
Sungguh, melihat karya para peserta, membuat saya terlempar ke satu titik ekstrim ke titik ekstrim yang lain. Mulai dari rasa kagum yang luar biasa, sampai muak melihat cara-cara yang dilakukan peserta. Pada beberapa karya, saya juga sangat menyayangkan, karena ada blunder kecil yang membuatnya gagal masuk menjadi salah satu finalis. Beberapa karya yang menjadi catatan saya:
EMIL PANJI ANGGORO
Sungguh, ini seharusnya menjadi sebuah kampanye yang luar biasa indah. Menebar harapan dan dukungan kepada para penderita penyakit amat mematikan, sungguh perbuatan yang amat mulia.
Sayang sekali kampanye ini dimulai dengan cara-cara yang buat saya sangat tidak etis: menebar kabar tentang seorang anak muda tampan yang akan mati empat hari lagi, nama anak itu: Emil Panji Anggoro.
Ketika masa Hoax itu lewat, kampanye ini tumbuh menjadi sebuah kampanye yang sangat indah, dengan video dan origami bangau. Saya sangat menyukainya. Sayang, itu semua dimulai dengan cara yang sekali lagi menurut saya, sangat tidak etis: mengeksploitasi maut yang akan menjemput seseorang.
Banyak cara lain yang bisa diambil untuk memulainya.
Tapi saya sendiri mendoakan, supaya kampanye Emil ini bisa terus hidup dan disupport semakin banyak orang.
SRI UTAMI SYAILENDRA
Sungguh, buat saya kampanye ini serupa dengan pengamatan antropologis yang mendetail, dari sudut pandang yang cenderung sinis, tentang fenomena ITC di Jakarta.
Sebuah isu ringan dan lucu, tapi tetap sangat menarik karena hampir semua manusia di Jakarta pernah mengalaminya. Paling tidak sekali seumur hidupnya.
Saya terbahak dan manggut-manggut melihat kampanye ini.
Sayang sekali, engagement-nya kurang. Amplifikasi tidak terasa sama sekali. Sungguh sayang sekali.
Tapi saya yakin, dengan tambahan sedikit waktu, seharusnya kampanye ini bisa menjadi besar di Internet.
DAYASAKTI RAHMANTO BOER
Aduh... ketika pertama kali menemukan video ini di youtube, saya langsung terbahak-bahak melihatnya.
Cara-caranya yang subtil, dia berhasil memperlihatkan bahwa manusia yang dianugrahi kemaluan ukuran raksasa pun mempunyai problem yang sama dengan manusia lainnya.
Dan karena caranya yang subtil inilah, saya jatuh cinta pada karakter ini.
Sayang, sekali lagi sayang. Untuk menghentikan kampanye, lagi-lagi sang pembuat mengambil jalan pintas: Membunuh si Dayasakti.
Sayang, sebuah kampanye yang baik diakhiri dengan jalan pintas.
BHUMI FAJAR JASMIN
Ini menjadi catatan saya pribadi.
Karena ide awalnya sungguh luar biasa.
Saya jatuh cinta dengan ide dasar seseorang yang membongkar hoax. Seorang Hoax Buster. Seorang Fake Character Hunter.
Harusnya dia menjadi tempat bertanya dan mengadu jika ada orang di internet mencurigai sesuatu.
Sayangnya dengan menggunakan video yang terlalu sederhana dan hanya menyebut nama, Bhumi Fajar Jasmin juga seperti menyebarkan hoax. Tanpa bukti, menuduh kalau si ini dan si itu adalah hoax. Tanpa memperlihatkan kenapa orang ini hoax, dan yang paling penting: memperlihatkan siapa di balik hoax tersebut.
Seandainya kampanye dan karakter ini dieksekusi dengan lebih baik dan simpatik, mungkin dia bisa menjadi finalis. Paling tidak, di mata saya.
Tautan penting:
http://blog.citrapariwara.org/?p=93



Comments [0]